Linguistik Modern


MAKALAH

ILMU AL-LUGHAH

tentang

“LINGUISTIK MODERN”

 

images

 

 

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK III:

PAUSIL                            : 409.054

RADIA HIJRAWAN           : 411.025

SANDI HUSRIADI              : 411.223

MIKI JULI HENDRA         : 411.267

 

DOSEN PEMBIMBING:

HANOMI, M.A

 

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB

FAKULTAS TARBIYAH IAIN IMAM BONJOL PADANG

2013 M / 1434 H

BAB I

PENDAHULUAN

 A.    LATAR BELAKANG

Menurut Dr. Farh Ibnu Muhammad Abd, linguistik modern yaitu studi bahasa secara ilmiah yakni secara objektif.[1] Sedangkan menurut Dr. Walid Qashab, Linguistik modern ialah Ilmu Eropa dan sampainya studi ini melalui studi bahasa Latin kuno.[2]

Pada abad 19 bahasa Latin sudah tidak digunakan lagi dalam kehidupan sehari-hari, maupun dalam pemerintahan atau pendidikan. Objek penelitian adalah bahasa-bahasa yang dianggap mempunyai hubungan kekerabatan atau berasal dari satu induk bahasa. Bahasa-bahasa dikelompokkan ke dalam keluarga bahasa atas dasar kemiripan fonologis dan morfologis. Dengan demikian dapat diperkirakan apakah bahasa-bahasa tertentu berasal dari bahasa moyang yang sama atau berasal dari bahasa proto yang sama sehingga secara genetis terdapat hubungan kekerabatan di antaranya. Bahasa-bahasa Roman, misalnya secara genetis dapat ditelusuri berasal dari bahasa Latin yang menurunkan bahasa Perancis, Spanyol, dan Italia.

Untuk mengetahui hubungan genetis di antara bahasa-bahasa dilakukan metode komparatif. Antara tahun 1820-1870 para ahli linguistik berhasil membangun hubungan sistematis di antara bahasa-bahasa Roman berdasarkan struktur fonologis dan morfologisnya. Pada tahun 1870 itu para ahli bahasa dari kelompok Junggramatiker atau Neogrammarian berhasil menemukan cara untuk mengetahui hubungan kekerabatan antarbahasa berdasarkan metode komparatif.

Pada abad 20 penelitian bahasa tidak ditujukan kepada bahasa-bahasa Eropa saja, tetapi juga kepada bahasa-bahasa yang ada di dunia seperti di Amerika (bahasa-bahasa Indian), Afrika (bahasa-bahasa Afrika) dan Asia (bahasa-bahasa Papua dan bahasa-bahasa negara di Asia).

Keberhasilan kaum Junggramatiker merekonstruksi bahasa-bahasa proto di Eropa mempengaruhi pemikiran para ahli linguistik abad 20, antara lain Ferdinand de Saussure. Sarjana ini tidak hanya dikenal sebagai bapak linguistik modern, melainkan juga seorang tokoh gerakan strukturalisme. Dalam strukturalisme bahasa dianggap sebagai sistem yang berkaitan (system of relation). Elemen-elemennya seperti kata, bunyi saling berkaitan dan bergantung dalam membentuk sistem tersebut.

B.     RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH

Dalam makalah ini penyusun akan merumuskan masalah yang akan dibahas, yaitu sebagai berikut:

  1. Pemahaman tentang Linguistik modern
  2. Linguistik dan naskah klasik
  3. Linguistik komparatif (Comparative Linguistic)
  4. Linguistik deskriptif (Descriptive Linguistic)

C.    TUJUAN

Adapun tujuan disusunnya makalah ini yaitu:

  1. Memahami linguistik modern
  2. Memahami dan membedakan antara linguistik dengan naskah (teks-teks) klasik (kuno)
  3. Memahami dengan benar dan jelas tentang linguistik komparatif
  4. Memahami dengan benar dan jelas tentang linguistik deskriptif

BAB II

PEMBAHASAN

LINGUISTIK MODERN

 A.    MEMAHAMI LINGUISTIK MODERN

 Linguistik modern merupakan studi bahasa yang berkembang antara abad 19 dan 20. Ruang lingkup kajian linguistik modern ialah penelitian bahasa secara ilmiah atau secara objektif. Maksudnya ialah bahasa itu tidak lagi dibahas tentang bahasa yang ada di Eropa saja, tetapi sudah meluas ke daerah-daerah lain seperti Amerika, Afrika, Asia dan lain sebagainya.

Dalam arti sempit Linguistik ialah kajian bahasa secara ilmiah. Ruang lingkup Linguistik yakni:[3]

  1. Al-Aswat (phonetics, phonology),
  2. Ash-Sharf (Morphology)
  3. An-Nahw (syintaksis)
  4. Alm ufradat dan ad-Dilalah (Semantics)

B.     LINGUISTIK DAN PHILOLOGY

Menurut pemahaman modern, Linguistik berbeda dengan philology.  kebanyakan yang terjadi pada saat sekarang ini, banyak yang mencampur adukkan kedua ilmu ini. Ilmu Teks-teks klasik di Eropa disebut ilmu philology. Ruang lingkup Philology dibatasi oleh maknanya yang halus dengan membuat naskah-naskah dan menyusunnya untuk diterbitkan secara ilmiah, terkait dengan teks dan ukiran kuno yang memungkinkan dilaksanakannya pembahasan yang khusus tentangnya, dan tidak diragukan lagi penyelidikan teks dan penyebaran ukiran adalah pekerjaan terbaik dari philology yang memunculkan lapangan ilmu bahasa. Ilmu philology mengungkapkan dengan makna ini sebagai landasan dari ilmu bahasa dan ilmu lainnya yang terkait dengan teks.

Pembahasan ilmu bahasa modern terkait pada perkembangan pertumbuhannya pada abad 19 dengan pembahasan pada teks-teks dan ukiran-ukiran kuno.

Sekolah perbandingan pada ilmu bahasa bertujuan untuk memahami kaitan yang mengikat seluruh bahasa dari bahasa-bahasa satu kelompok bahasa dengan kelompok lainnya. Bahkan, mereka menindahkan pengenalan terhadap karakteristik bahasa INDIA EROPA yang berbeda telah diturunkan darinya, dan para peneliti mencoba dengan bahasa ibu samiyah yang telah dikenal. Tujuan sejarah ini menunaikan kepada perhatian terhadap teks-teks kuno dan pada pandangan terhadap tingkatan sejarah yang berikutnya.  Kebalikan dari masa lampau para pakar telah banyak meneliti pada pembahasan ukiran-ukiran dan teks-teks kuno dan telah tersingkap bahasa akadiyah yang pembelajarannya dimulai pada abad 19 dan pada masa yang sama, telah tersingkap bahasa selatan kuno, dan pengenalan terhadap dua bahasa ini manjadi terlaksananya perbandingan bentuk yang datang pada ukiran keduanya.

Akan tetapi pembagian aspek penelitian bahasa pada abad ke 20 mengharuskan khusus bagi yang ingin berpartisipasi dalam penelitian ilmiah. Terbitnya teks-teks dan prasasti klasik menjadi disiplin ilmu tentang linguistik.  Menurut pemahaman modern linguistik berbeda dengan ilmu teks klasik (philology). Dan pada abad ke 19 belum ada perbedaan yang jelas untuk menghubungkan penelitian bahasa dengan teks-teks klasik. Para peneliti Jerman membedakan pada abad 19 antara philology dengan linguistik. Selain peneliti Jerman cenderung untuk membedakan keduanya dan tidak mencampurkan keduanya menjadi satu nama.  Ruang lingkup philology ditentukan oleh maknanya yang mendalam dengan adanya naskah-naskah dan penyusunannya menjadi suatu terbitan ilmiah dan juga rumus-rumus naskah kuno. Maka segala sesuatu yang berkaitan dengan teks-teks dan prasasti kuno terhadap nilai-nilai dengan penelitian-penelitian yang khusus dalam nilai tersebut tidak diragukan lagi bahwa adanya teks-teks dan prasasti kuno serta penerbitannya merupakan kegiatan yang besar yakni dasar-dasar yang terdiri darinya pembahasan teks-teks dan prasasti ini dari segi historis atau bahasa maupun kehidupan sosial yang berbeda-beda.

C.    LINGUISTIK PERBANDINGAN (COMPARATIVE LINGUISTIC)

Pada abad 19 para paka linguistik Eropa telah membagi bahasa yang berbeda-beda menjadi beberapa kelompok, di sini satu rumpun bahasa yakni India-Eropa yang terdapat dengan jumlah yang sangat besar dari bahasa-bahasa yang tersebar luas di daerah-daerah dari India, Iran hingga ke Eropa.[4]

Objek linguistik komparatif adalah mengkaji fenomena fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikon dalam bahasa-bahasa yang berasal dari satu rumpun bahasa atau salah satu cabang dari satu rumpun bahasa. Oleh karena itu, metode linguistik komparatif didasarkan pada prinsip klasifikasi bahasa ke dalam rumpun rumpun bahasa. Sejak abad 19 para linguis membagi berbagai bahasa ke dalam kelompok-kelompok atau rumpun-rumpun bahasa. Ada rumpun bahasa Indo-Eropa yang mencakup bahasa yang paling banyak di daerah yang membentang dari India sampai Eropa. Dengan demikian ia mencakup sejumlah besar bahasa yang telah dikenal dan sedang dikenal oleh bangsa India, Iran, dan benua Eropa. Juga, pada abad 19 para linguis Eropa telah mengenal bahwa bahasa Arab berasal dari rumpun bahasa Semit yang juga mencakup bahasa Ibrani, bahasa Aramea, bahasa Akadis, dan bahasa Habsyi. Para linguis dapat membagi berbagai bahasa ke dalam rumpun-rumpun bahasa dengan membandingkan bahasa-bahasa ini dan menemukan aspek-aspek kesamaan di antara bahasa-bahasa itu dari fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikon. Adanya aspek-aspek kesamaan yang prinsipil di antara sejumlah bahasa, artinya bahwa bahasa-bahasa itu berasal dari pangkal yang sama, yaitu dari bahasa pertama yang melahirkan bahasa-bahasa ini lewat perjalanan sejarah.

Para pakar bahasa menemukan adanya fenomena yang menyatu dalam bahasa-bahasa yang tersebar sepanjang masa antara Iran, India, dan Eropa, mereka menganggap bahwa bahasa-bahasa ini adalah satu rumpun bahasa yang muncul dari bahasa kuno atau klasik yang telah musnah. Maka para pakar bahasa mengumumkan nama bahasa India Eropa yang pertama adalah Proto-Indoeuropean. Para pakar juga menemukan berbagai macam bahasa seperti bahasa Arab, Ibriah, finiqiah, akadiah, dan habsyi yang mengandung sebagian karakteristik dasar yang sama maka para pakar mengambil kesimpilan bahwa bahasa itu membentuk satu kelompok bahasa yang satu yang diturunkan dari satu akar, mereka mengumumkan : bahasa Samiah yang pertama (Proto-semitic atau Ursemitich), perbandingan bahasa yang berbeda-beda yang dinisbatkan pada satu kelompok bahasa yang satu adalah satu materi pada ilmu bahasa perbandingan.

Ilmu bahasa Samiah dibandingkan dengan bahasa Akadiah, Igrit, Ibriah, Finiqiah, Aramiah, Arab Selatan, Ibriah Utara, dan Habsyi, karena bahasa ini adalah satu kelompok. Ilmu bahasa India Eropa dibandingkan dengan pembahasan bahasa yang berbeda yang masuk pada  kelompok bahasa. Kelompok bahasa India Eropa mencakup banyak cabang bahasa, yang terprnting yaitu bahasa Jerman, Rumania, Salafi, Iran, dan India. Kebanyakan bahasa telah memunculkan perhatian sebaagian pakar pada perbandingan bahasa pada satu cabang dari seluruh cabang. Ilmu bahasa Jerman dibandingkan dengan dengan pembahasan bahasa Almani, Inggris, Nurdiah klasik, Denmark, dan selain itu dari bahasa-bahasa logat yang masuk pada cabang ini. Ilmu perbandingan  bahasa Rumani membahas : bahasa Latin, seluruh bahasa dan logat yang muncul darinya.  Bahasa dan logat Rumaniah ini mencakup bahasa Rumania modern, yaitu Perancis, Spanyol, Italya, dan bahasa Republik Rumania. Dan perbandingan bahasa-bahasa ini dengan bahasa Latin dengan bahasa Latin Sya’biyah adalah ruang lingkup pembahasa pada ilmu bahasa Rumania. Adapun ilmu perbandingan bahasa Salafi maka pembahasan bahasa Rusia, Belanda, Ukrania, Tasyikia Slovekia, Kroasia, dan Bulgaria. Jadi, penjelasan hubungan sejarah antara bahasa yang satu  dengan  cabang bahasa atau satu kelompok bahasa adalah ruang lingkuppembahasan ilmu perbandingan bahasa.

Perbandingan dilakukan dengan metode historis, seperti yang terjadi pada abad ke 19. Maka kajian dengan membandingkan bahasa adalah yang berkembang pada abad ini, lalu diperoleh beberapa bahasa dengan memperhatikan kesamaan atau kedekatan strukturnya. seperti: Sansekerta, dan Yunani kuno, dan Latin, Slavia, dan Gothic.[5]

D.    LINGUISTIK DESKRIPTIF

Linguistik deskriptif mengkaji secara ilmiah satu bahasa atau satu dialek pada masa tertentu dan tempat tertentu. Ini berarti bahwa linguistik deskriptif mengkaji satu tataran bahasa dari aspek fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikon. Para linguis masih mengkaji bahasa bahasa pada abad 19 dan awal abad 20 dengan metode komparatif. Tidak ada konsepsi yang jelas untuk dapat mengkaji satu bahasa atau satu dialek secara ilmiah dan akurat. Akan tetapi de Saussure dengan kajiannya tentang teori dan fungsi bahasa membuktikan kemungkinan mengkaji bahasa secara deskriptif atau historis.

Dengan demikian para linguis mulai mengembangkan metode penelitian untuk menganalisis konstruksi bahasa. Para linguis semakin menaruh perhatian terhadap metode deskriptif di wilayah Amerika setelah perang dunia II. Metode ini menjadi metode yang dominan pada sepuluh tahun yang lalu di kalangan orang yang berkecimpung dalam linguistik modern di seluruh penjuru dunia.

Linguistik deskriptif mengkaji suatu konstruksi bahasa atau suatu dialek. Setiap bahasa dan setiap dialek tersusun dari bunyi-bunyi bahasa yang tersusun dalam kata-kata; dari kata-kata itu tersusunlah kalimat untuk menyatakan berbagai makna. Perbedaan antara bahasa dan dialek merupakan perbedaan peradaban yang tidak lahir dari konstruksi bahasa. Akan tetapi ia didasarkan pada asas bidang-bidang pemakaian. Pemakaian dalam bidang budaya dan ilmu menjadikan tataran bahasa yang dipakai itu sebagai sebuah bahasa. Adapun komunikasi lokal bisa dengan bahasa ini di kalangan intelektual di beberapa masyarakat maju. Akan tetapi komunikasi di kebanyakan masyarakat bahasa di dunia bisa saja dengan dialek. Metode deskriptif dapat diterapkan dalam menganalisis konstruksi suatu bahasa atau suatu dialek.

Pembahasan struktur kata kerja dalam dialek Kuwait, atau nizham shouti Yaman atau kalimat istifham dalam prosa Arab modern atau bentuk jamak taksir dalam sya’ir jahiliyah dan jumlah istitsna’ dalam prosa Arab pada abad ke-IV H dengan objek kajian tentang linguistik deskriptif. Kajian tentang fonem (bunyi), morfologi (Sharaf), syntaksis (Nahwu), dan semantik (Dilalah) untuk suatu kebutuhan di masa lalu, pertengahan dan sekarang yang dikenal dengan kajian deskriptif. Dalam hal ini ruang lingkup  untuk meneliti prasasti dan teks-teks arab klasik dengan metode deskriptif. Maka kajian tentang  struktur fonem yang penggunaannya diterima pada kumpulan prasasti atau teks-teks untuk dikembangkan sampai kepada komponen satu bahasa yang disebut dengan study deskriptif dengan metode deskriptif. Studi yang mempelajari dari sisi sintaks disebut dengan study nahwiyah dengan metode deskriptif. Yang lebih penting dengan cakupan yang lebih besar ialah mempersiapkan kamus kecil yang disusun berdasarkan lafazh-lafazh. Atau digunakan dalam suatu struktur penggunaan bahasa seperti menyiapkan kamus daftar setiap kamus tersebut terdiri dari lafazh-lafazh yang disusun dalam kantor atau dalam satu dialek . dan setiap kamus tersebut ada usaha untuk menyempurnakan dengan metode deskriptif ini.

Para peneliti menerima pendekatan  deskriptif ini dalam penelitian mereka, maka tersebar luaslah metode ini di abad 20, khususnya di Amrerika.[6] Linguistik deskriptif menjadi metode yang lebih dominan dan utama dari metode kajian linguistik lainnya, seperti komparatif, historis, semantic, dll[7]

BAB III

PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Sepanjang urain yang penyusun paparkan di atas, kemungkinan pembaca ada yang kesulitan untuk menarik sebuah kesimpulan. Maka dari itu kami memberikan ringkasan isi makalah di atas sebagai berikut:

  1. Dapat dipahami bahwa Linguistik Modern itu berkembang mulai pada abad 19 dan awal abad 20 dengan pakar Eropa yang terkenal yaitu De Saussure.
  2. De Saussure adalah orang yang pertama mengkaji linguistik modern
  3. Ruang lingkup kajian linguistic modern ialah bukan hanya satu rumpun bahasa yang ada di Eropa saja, tetapi sudah mengkaji tentang rumpun bahasa yang ada di daerah di seluruh dunia seperti Amerika, Afrika, Asia, dan lainnya
  4. Menurut sebagaian besar para pakar linguistik mengatakan antara linguistik dengan pholology memiliki perbedaan.
  5. Linguistik Komparatif yaitu kajian tentang bahasa-bahasa yang berasal dari satu rumpun bahasa atau satu cabang dari satu rumpun bahasa dengan membandingkan bahasa-bahasa tersebut, kemudian melihat kesamaan dari segi fonem, morfem, sintaksis, dan leksikonnya.
  6. Linguistik Deskriptif yaitu kajian ilmiah tentang satu tatanan atau struktur bahasa di daerah dan waktu tertentu, dengan cara menggambarkan aspek fonem, morfem, sintaksis, dan leksikonnya.

B.     KRITIK DAN SARAN

Kami penyusun menyadari makalah yang kami susun ini jauh dari kekurangan dan kesempurnaa. Oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritikan dan saran yang mendukung terhadap makalah kami ini.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

 

–         حجازي، محمود فهمي. علم اللغة العربية، مدخل تاريخي مقارن في ضوء التراث واللغات السامية. 27 شارع فهد السالم – الكويت: وكالة المبوعات

–         (إبراهيم، خليل. كتاب مدخل إلى علم اللغة .ص120و121) في http://arab426.blogspot.com/2011/04/blog-post_117.html

–            حسنين، صلاح الدين صالح. دراسات في علم اللغة الوصفي و التاريخي و المقارن. ص33  و 34 203 و 204

–         علام،  عبد العزيز أحمد. في علم اللغة العام . ص. 28 و 29

 


[3] Mahmud Fahmi Hajazi. Ilmu al-Lughah al-Arabiyah. Hal: 21

[4] د. محمود فهمى حجازي. علم اللغة العربية. ص 119

[5] كتاب مدخل إلى علم اللغة .تأليف د/ إبراهيم خليل .ص120

[6] كتاب في علم اللغة العام .تأليف د / عبد العزيز أحمد علام . ص28 و 29

[7]  كتاب دراسات في علم اللغة الوصفي و التاريخي و المقارن تأليف د/ صلاح الدين صالح حسنين ص 203

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s