TEORI- TEORI BELAJAR DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB


TEORI- TEORI BELAJAR DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

BAHASA ARAB

 A.    Rumpun Psikologi Kekuatan Mental

Rumpun teori ini disebut Psikologi Mental karena menurut pandangan ahli psikologi, individu atau siswa mempunyai kekuatan atau kemampuan yang bersifat mental atau rohaniah. Dalam rumpun ini ada tiga teori psikologi yang terkenal dan banyak berpengaruh terhadappelaksanaa pengajaran, yaitu Psikologi Daya, Psikologi Tanggapan, dan Psikologi Nturalisme Romantik.

1.      Psikologi Daya

Menurut psikologi daya atau Faculty Psychology, individu atau siswa memiliki sejumlah daya atau kekuatan, seperti daya : mengindra, mengehal, mengingat, menanggap, menghkhayal, berpikir, merasakan, menilai, dan berbuat. Daya- daya itu dapat dikembangkan melalui latihan, seperti latihan mengamati benda, gambar, latihan mendengarkan bunyi dan suara, latihan mengingat kata, arti kata, dan letak sesuatu kota dalam peta. Latihan- latihan ini dilakukan melalui berbagai bentuk pengulangan. Dalam pelajaran pendidikanjasmani atau olahraga, guru- guru banyak menggunakan metode mengajar ini. Guru memberikan latihan secara berulang- ulang, untuk meningkatkan kemampuan anak dalam berbagai keterampilan seperti : menangkap, melempar, dan memukul bola dalam permainan kasti, loncat tinggi, lompat jauh, lempar lembing, dalam atletik.

2.      Psikologi Tanggapan

Teori kekuatan mental yang lain adalah Psikologi Tanggapan atau Vorstellungen. Karena pengembang teori ini adalahseorang ahli psikologi berasal dari Jerman bernama Herbart, maka psikologi ini juga disebut Herbatisme. Herbart menyebut teorinya sebagai teori Vorstellungen, yang dapat diterjemahkan sebagai tanggapan- tanggapan yang tersimpan dalam kesadaran. Setiap pengalaman, apakah yang diterima melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, dibaca, dipikirkan, dilakukan dan sebagainya. Akan memberikan bekas di dalam kesadaran. Bekas- bekas ini dapat dumunculkan kembali dalam bentuk tanggapan. Ada tiga bentuk tanggapan, yaitu : impresi, indra, tanggapan atau bayangan dari impresi indra yang lalu, dan perasaan yang menyertai impresi atau tanggapan tersebut, seperti senang atau tidak senang.

Tanggapan- tanggapan tersebut tidak semuanya berada dalam kesadaran, adakalanya juga berada dalam ketidaksadaran. Tanggapan- tanggapan itu berbeda- beda kekuatannya dan pengaruhnya terhadap kehidupan individu. Kehidupan individu dipengaruhi oleh tanggapan- tanggapan yang paling kuat.

Menurut teori ini belajar adalah mengusahakan adanya tanggapan sebanyak- banyaknya dan sejelas- jelasnya pada kesadaran individu, yang akan membentuk suatu struktur tanggapan. Tanggapan baru akan mudah diterima dan berada dalam kesadaran seseorang, apabila ada hubungan antara tanggapan baru tersebut dengan tanggapan- tanggapan yang telah ada, serta karena adanya rasa senang terhadap yang ditanggapinya.

3.      Psikologi Naturalisme Romantik

Teori ini berasal dari Jean J. Rousseau. Menurut Rousseau anak memiliki potensi atau kekuatan yang masih terpendam, yaitu potensi berpikir, berperasaan, berkemauan, keterampilan, berkembang, mencari dan menemukan sendiri apa yang diperlukannya. Melalui berbagai bentuk kegiatan dan usaha belajar anak mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Berbeda dengan teori- teori lain, menurut Rousseau anak tidak usah terlalu banyak diatur dan diberi, biarkan mereka mencari dan menemukan dirinya sendiri, sebab menurut dia anak dapat berkembang sendiri.

Bagi teori ini tugas guru tidak jauh berbeda dengan tugas seorang petani dalam mengembangkan tanaman. Tanaman telah mempunyaipotensi- potensi sendiri, tugas petani hanya menyediakan tanah yang gembur, air, dan cahaya yang cukup, diberi pupuk dan dihindarkan dari hama. Tanaman akan tumbuh, berdaun, berbunga dan berbuah sendiri, tidak perlu dipaksa. Demikian juga dalam mengajar, guru tidak perlu memaksa anak. Tugas guru adalah menyediakan bahan ajaran yang menarik perhatian dan minat anak, sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangannya, menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, memberi motivasi dan bimbingan sesuai dengan sifat dan kebutuhan anak. Dengan cara seperti itu anak akan berkembang secara optimal.

Konsep- konsep belajar optimal yang mengaktifkan siswa, seperti Cara Siswa Belajar Aktif, Belajar Inkuiri Diskaveri, Pemecahan Masalah, Keterampilan Proses, Belajar Dengan Memanfaatkan Lingkungan, dan sebagai antara lain didasari oleh teori ini.

B.     Rumpun Psikologi Behaviorisme

Rumpun Psikologi ini disebut Behaviorisme karena sangat menekankan behavior, yaitu tingkah laku atau prilaku yang dapat diamati atau diukur. Rumpun Psikologi ini bersifat molekuler atau unsuriah, karena memandang kehidupan individu manusia terdiri atas unsur- unsur seperti halnya molekul- molekul. Ada beberapa ciri dari rumpun Psikologi ini, yaitu : (1) mengutamakan unsur- unsur atau bagian- bagian kecil, (2) bersifat mekanistis, (3) menekankan peranan lingkungan, (4) mementingkan pembentukan reaksi atau respons, (5) menekankan pentingnya latihan.

Sekurang- kurangnya ada tiga teori belajar yang terpenting dalam rumpun Psikologi Behaviorisme ini, yaitu Psikologi Asosiasi atau Koneksionisme, Conditioning dan Operant Conditioning.

 1.      Psikologi Asosiasi

Psikologi asosiasi atau Koneksionisme merupakan teori yang paling awal dari rumpun Behaviorisme. Menurut Psikologi ini tingkah laku individu tidak lain dari suatu hubungan antara rangsangan dengan jawaban, atau stimulus-respons. Belajar adalah pembentukan hubungan stimulus- respons sebanyak- banyaknya. Siswa yang menguasai hubungan stimulus- respons dari bahan yang diajarkan di sekolah adalah siswa pandai atau berhasil dalam belajar. Pembentukan hubungan stimulus- respons dilakukan melalui ulangan- ulangan atau latihan. Dengan demikian teori ini memiliki banyak persamaan dalam cara mengajarnya dengan teori Psikologi Daya atau Herbatisme. Keduanya menekankan latihan atau ulangan- ulangan.

Buku- buku atau cara mengajar yang menggunakan buku- buku soal jawab atau latihan soal, dapat merupakan contoh penggunaan teori ini. Metode drill atau latihan yang ada unsur paksaan selain digunakan dalam pengajaran latihan daya- daya, juga dalam pengajaran stimulus- respons.

2.      Psikologi Conditioning

Psikologo Conditioning, merupakan perkembangan lebih lanjut dari Koneksionisme. Teori ini dilatarbelakangi oleh percobaan Pavlov dengan keluarnya air liur pada anjing. Air liur akan keluar apabila anjing melihat atau mencium bau makanan. Dalam percobaan Pavlov membunyikan sebelum memperlihatkan makan pada anjing. Setelah diulang berkali- kali ternyata, air liur tetap keluar bila bel berbunyi meskipun makanannya tidak ada.hasil dari penelitian ini ternyata dapat diterapkan pada manusia, seperti para siswa berbaris dan masuk kelas kalau lonceng berbunyi. Respon terhadap kondisi itu terjadi karena telah merupakan suatu kebiasaan, yaitu perilaku yang dikerjakan secara berulang- ulang.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perilaku individu manusia dapat dikondisikan. Menurut teori ini belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan suatu perilaku atau respons terhadap sesuatu.

3.      Psikologi Penguatan

Psikologi Penguatan juga merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori koneksionisme dan conditioning. Kalau pada Conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya, sedangkan pada pada teori penguatan yang dikondisi atau diperkuat adalah responsnya. Seorang anak belajar sungguh- sungguh dengan demikian pada waktu ulangan dia dapat menjawab semua soal dengan benar. Atas hasil belajarnya yang baik itu dia mendapatkan nilai yang baik. Banyak bentuk operant conditioning dalam kehidupan sehari- hari kita temukan, seperti menyediakn kupon berhadiah, pemberian bonus dan lain- lain.

Dalam membuat rencana pengajaran untuk setiap pokok bahasan, kita dapat memilih cara mengajar berdasarkan salah satu teori di atas. Sebelum menuliskannya pada rencana tersebut pertimbangkan dulu, apakah cara itu cocok untuk mengajarkan pokok bahasan tersebut

C.    Rumpun Psikologi Kognitas Gestalt

Teori atau  Psikologi Kognitif Gestalt, berbeda dengan Psikologi Behaviorisme. Kalau rumpun Psikologi Behaviorisme bersifat molecular atau menekankan unsur- unsur, maka rumpun Kognitif Gestalt bersifat molar atau menekankan kesuluruhan yang terpadu. Menurut para ahli teori ini, alam, kehidupan manusia, dan perilaku manusia selalu merupakan suatu keseluruhan, suatu keterpaduan.

Ada tiga teori yang terkeunal dari rumpu psikologi ini, yaitu Psikologi Gestalt, Psikologi Kognitif, dan Psikologi Medan.

1.      Psikologi Gestalt

Psikologi Gestalt berkembang di Jerman dengan pendiri utamanya adalah Max Wertherimer. Tokoh- tokoh lainnya yang juga terkenal adalah Wofgang Kohler, Kurt Koffka, dan Kurt Lewin. Perkataan Gestalt dalam bahasa Jerman berarti suatu konfigurasi, pola, kesatuan, atau keseluruhan. Psikologi Gestalt memang prinsip utamanya menekankan keseluruhan dan keterpaduan. Keseluruhan lebih dari jumlah bagian- bagian. Suatu keseluruhan membentuk satu kesatuan bermakna. Menurut teori Gestalt belajar harus dimulai dari keseluruhan, baru kemudian kepada bagian- bagian. Suatu keseluruhan terdiri atas bagian- bagian yang mempunyai hubungan satu sama lain. Dalam belajar, siswa harus mampu menangkap makna dari hubungan antara bagian suatu dengan bagian lainnya. Penangkapan makna hubungan inilah yang disebut memahami, mengerti atau insight. Teori Gestalt sangat menekankan insight.

Dalam pelaksanaan mengajar dengan teori Gestalt, guru tidak memberikan potongan- potongan atau bagian- bagian bahan ajaran, tetapi selalu satu- kesatuan. Ia memberikan suatu kesatuan situasi atau bahan yang mengandung persoalan- persoalan. Anak harus berusaha menemukan antar hubungan antarbagian, memperoleh insight agar ia dapat memahami keseluruhan situasi atau bahan tersebut. 

2.      Psikologi Kognitif

Teori kedua dari rumpun Psikologi Kognitif Gestalt adalah Psikologi Kognitif. Teori ini lebih menekankan pada proses mengetahui, yaitu menemukan cara- cara ilmiah dalam mempelajari proses mental yang terlibat dalam upaya mencari dan menemukan pengetahuan. Psikologi Kognitif mempunyai hubungan yang erat dengan Psikologi Gestalt sebab menekankan proses mental, terutama proses berpikir. Pemahaman atau insight juga merupakan proses berfikir. Teori ini tiadak mengabaikan prilaku, sebab prilaku merupakan indikator dari proses mental khusunya proses berfikir. Individu atau siswa mempunyai struktur mental atau organisasi mental, pengetahuan- pengetahuan yang telah dimiliki dan rangsangan- rangsangan atau pengetahuan- pengetahuan yang baru diterima, disatukan atau diorganisasikan dalam struktur mental tersebut. Salah satu bagian dari struktur mental adalah struktur adalah struktur Kognitif.

Pengajaran yang berdasarkan teori Kognitif, menekankan proses belajar aktif, terutama aktif secara mental, di dalam mencari dan menemukanpengetahuan serta menggunakannya. Berbagai bentuk metode belajar aktif seperti metode : pemecahan masalah, penelitian, pengamatan, diskusi, deduktif, induktif, dan lain- lain merupakan metode- metode yang khas dari teori ini.

3.      Psikologi Medan

Psikologi Medan pada prinsipnya sama dengan Gestalt, menekankan keseluruhan dan keterpaduan. Menurut reori ini individu selalu dalam suatu medan atau suatu lapangan. Dalam medan ini ada suatu tujuan yang dicapai individu, tetapi untuk mencapai selalu ada hambatan. Individu memiliki suatu dorongan atau motif dan berusaha mengatasi hambatan. Apabila individu berhasil mencapai tujuan, maka ia masuk ke dalam medan atau lapangan fenomenal baru yang di dalamnya terbentuk tujuan baru dengan hambatan- hambatan baru dan motif yang baru pula. Demikian seterusnya individu keluar dari suatu medan dan masuk ke medan berikutnya.

Daalam merencanakan suatu pengajaran, menurut teori Medan, tujuan harus dipilih yang bermakna bagi siswa dan dirumuskan sejelas mungkin. Bahan dan tugas- tugas harus disesuaikan dengan kemampuan siswa. Di samping penggunaan strategi dan media belajar yang tepat, motivasi dan pembimbingan siswa memegang peranan penting dalam meningkatkan upaya belajar siswa.

 

KESIMPULAN

 A.        Rumpun Psikologi Kekuatan Mental

  1. Psikologi Daya
  2. PSikologi Tanggapan
  3. Psikologi Naturalisme Romantik

B. Rumpun Psikologi Behaviorisme

  1. Psikologi Asosiasi
  2. Psikologi Conditioning
  3. Psikologi Penguatan

C. Rumpun Psikologi Kognitas Gestalt

  1. Psikologi Gestalt
  2. Psikologi Kognitif
  3. Psikologi medan

 

 DAFTAR PUSTAKA

 

R. Ibrahim dan Nana Syaodih, Perencanaan Pengajaran : Jakarta, Rineka Cipta, 2003.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s