Teori Dalam Penelitian


MAKALAH

METODOLOGI PENELITIAN BAHASA ARAB

tentang

TEORI DALAM PENELITIAN

 

 

 

OLEH:

KELOMPOK III

PAUSIL                        : 409 054

M. YUSUF                    : 409 089

ABRORIKA                 : 409 349

 

DOSEN PEMBIMBING:

RAHMAWATI, M.A

 

 

PENDIDIKAN BAHASA ARAB FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

IMAM BONJOL PADANG

1432 H/2011 M

BAB I

PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang Masalah

Dalam penelitian kuantitatif penggunaan teori secara deduktif dan menempatkannya di awal rencana penelitian. Tujuan penelitian kuantitatif adalah menguji atau membuktikan sebuah teori, bukannya untuk mengembangkan teori. Oleh karena itu, untuk memulai penelitian dengan mengajukan sebuah teori, mengumpulkan data untuk mengujinya dan menguji ulang apakah teori tersebut diperkuat atau diperlemah oleh hasil penelitian. Teori tersebut menjadi kerangka penelitian secara keseluruhan, suatu model terorganisir pernyataan atau hipotesa penelitian dan prosedur pengumpulan data.

 B.     Rumusan dan Batasan Masalah

  1. Apakah teori yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian?
  2. Bagaimanakah teori penelitian bahasa Arab?

Dalam makalah ini akan dijelaskan:

  1. Pengertian teori dan macam-macamnya
  2. Teori yang diperlukan dalam penelitian dan sumbernya
  3. Hubungan teori dengan fakta dan masalah

 

C.    Tujuan

Makalah ini dibuat untuk:

  1. Mengetahui dan memahami arti teori dan macam-macamnya
  2. Mengetahui apa saja teori yang digunakan dalam penelitian beserta sumbernya
  3. Mengetahui dan memahami hubungan timbal balik antara teori, fakta, dan masalah


BAB II

PEMBAHASAN

TEORI DALAM PENELITIAN

 A.    Pengertian dan Macam-macam Teori

Teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstruk, dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antarkonsep.[1] Teori menunjukkan hubungan antara fakta-fakta. Teori menyusun fakta-fakta dalam bentuk yang sistematis sehingga dapat dipahami.[2]

Menurut Kerlinger teori adalah sebagai serangkaian bagian (variabel), definisi dan dalil yang saling berhubungan yang dihadirkan sebuah pandangan sistematis tentang fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah.

Bentuk teori dapat berupa serangkaian hipotesa, pernyataan logis “jika…maka”, atau model visual. Bentuk presentasi teori menunjukkan urutan sebab musabab variabel-variabel. Hopkins menyajikan teorinya sebagai serangkaian hipotesa.

Para ahli ilmu pengetahuan secara sistematis membangun teori dan mengetesnya untuk mengetahui internal konsistensi dan aspek-aspek subjektifnya dengan data-data empiris.[3]

Menurut Kinayati Djojosuroto & M.L.A. Sumaryati, teori digolongkan kepada empat macam, yaitu asumsi, konsep, konstruk, dan proposisi.

1.      Asumsi

Asumsi adalah suatu anggapan dasar tentang realita, harus diverifikasi secara empiris.[4] Dalam penelitian ilmu sosial, setidaknya kita mengenal dua pendekatan yang memengaruhi proses penelitian, mulai dari merumuskan permasalahan hingga mengambil kesimpulan. Setiap pendekatan memiliki asumsi dasar yang berbeda. Asumsi dasar yang ada di dalam pendekatan kuantitatif bertolak belakang dengan asumsi dasar yang dikembangkan di dalam pendekatan kualitatif. Asumsi dasar inilah yang memengaruhi pada perbedaan dari cara pandang peneliti terhadap sebuah fenomena dan juga proses penelitian secara keseluruhan.

Adapun asumsi dasar pendekatan kuantitatif , yaitu:[5]

  1. Asumsi Dasar Ontologi (Hakikat Dasar Gejala Sosial)

Gejala sosial dikatakan sebagai sesuatu gejala yang real, yang dapat diungkap dengan menggunakan indra manusia. Karena suatu gejala adalah real, bisa terjadi kesepakatan di antara individu-individu yang ada di sekitarnya, dan suatu ketika gejala tersebut menjadi sebuah fenomena yang sifatnya universal dan diakui oleh orang banyak.

2. Asumsi Dasar Epistemologi (Hakikat Dasar Ilmu Pengetahuan)

Suatu gejala adalah nyata. Karena gejala itu sifatnya nyata, gejala yang ada bisa dipelajari. Gejala yang ada bisa ditangtkap dengan menggunakan indra. Dengan demikian, kita bisa membuat perbedaan bantara yang satu dengan yang lain.

Epistemologi mencakup tiga hal, yaitu sebagai berikut:

1)      Keterkaitan antara ilmu dengan nilai

Ilmu pengetahuan berpendirian bahwa “tahu” lebih baik dari “tidak tahu” tentang apa pun. Pengetahuan yang diperoleh harus disebarluaskan dan menjadi milik umum dan tidak boleh dirahasiakan atau menjadi milik pribadi atau kelompok.

Karena pendirian bahwa “tahu” lebih baik daripada “tidak tahu” maka ilmu pengetahuan memerlukan kebebasan penuh untuk mengadakan penelitian. Kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan akan terhalang bila ada tekanan sosial politik yang menghambat atau mengekang kebebasan itu.

Jadi sebagai nila-nilai yang terkandung dalam ilmu pengetahuan dapat kita sebut: kejujuran, kesediaan mengakui yang salah, mengutamakan kebenaran di atas harga diri, untuk dipersembahkan kepada umu, tanpa keuntungan pribadi, kebebasan dalam meneliti dan menyebarkan ilmu agar manusia lebih banyak tahu tentang dirinya dan dunia tempat ia hidup.

S. Nasution menambahkan bahwa “ada kemungkinan nilai-nilai ilmu pengetahuan itu bertentangan dengan nilai-nilai masyarakat. Pada hakikatnya ilmu pengetahuan mencari kebenaran dengan data empiris. Nilai-nilai masyarakat yang didasarkan atas takhayul, tradisi atau prasangka dibantah oleh hasil penelitian ilmiah.

Individu adalah seorang yang bebas nilai. Bebas nilai dapat diartikan bahwa indidvidu tidak dipengaruhhi oleh nilai-nilai yang ada di antara orang-orang yang sedang diteliti. Bebas nilai karena individu telah memiliki seperangkat nilai yang ia gunakan untuk meneliti orang-orang tersebut. Nilai yang ia bawa dan gunakan adalah nilai-nilai yang sifatnya universal. Dengan sifat yang universal itu, individu berasumsi bahwa orang-orang yang akan ia teliti memiliki nilai-nilai yang sama dengan nilai-nilai yang ia bawa.

2)      Keterkaitan ilmu dengan akal sehat

Segala sesuatu yang diperoleh dengan menggunakan cara yang ilmiah atau yang kita kenal sebagai ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang lebih baik dibandingkan dengan akal sehat belaka. Dengan demikian, pada saatnya nanti ilmu akan menggantikan akal sehat

 

3)      Metodologi

Logika pemikiran ilmiah yang mencakup proses pembentukan ide dan gagasan diberlakukan secara ketat dengan memakai prinsip nomotetik dan menggunakan pola deduktif.[6]

3. Hakikat dasar manusia

Dengan adanya pola yang bersifat universal, pada gilirannya manusia sersungguhnya diatur dan dipengaruhi oleh lingkungannya. Manusia dipengaruhi oleh lingkungan, manusia bukan merupakan individu yang bebas. Dalam kenyataan hidup kita sehari-hari, kita pasti mengalami bahwa dalam setiap tindakan, perkataan, serta perilaku kita diatur oleh sebuah hukum yang universal.

4. Aksiologi (Tujuan dilakukannya sebuah penelitian)

Tujuan dilakukannya sebuah penelitian adalah dalam upaya untuk menemukan hukum universal dan mencoba menjelaskan mengapa suatu gejala atau fenomena terjadi, dengan mengaitkan antara gejala atau fenomena yang satu dengan gejala atau fenomena yang lain.

2.      Konsep

Konsep adalah istilah, terdiri dari satu kata atau lebih yang menggambarkan suatu gejala atau menyatakan suatu ide (gagasan) tertentu.[7] Bailey (1982) menyebutkan sebagai persepsi (mental Image). Atau abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan hal-hal khusus.

Setiap penelitian kuantitatif dimulai dengan menjelaskan konsep penelitian yang digunakan, karena konsep penelitian ini merupakan kerangka acuan peneliti di dalam mendesain instrument penelitian. Konsep juga dibangun dengan maksud agar masyarakat akademik atau masyarakat ilmiah maupun konsumen penelitian atau pembaca laporan penelitian memahami apa yang dimaksud dengan pengertian variable, indikator, parameter, maupun skala pengukuran yang dimaksud penelitiannya kali ini. Lebih konkrit, konsep adalah generalisasi dari sekelompok fenomena yang sama[8]

Dalam membangun konsep ada dua desain yang perlu diperhatikan, yaitu generalisasi dan abstraksi. Generalisasi adalah proses bagaimana memperoleh prinsip dari berbagai pengalaman yang berasal dari literatur dan empiris. Abstraksi yaitu cakupan ciri-ciri umum yang khas dari fenomena yang dibicarakan.

3.      Konstruk

Konstruk adalah konsep yang ciri-cirinya dapat diamati langsung seperti pemecahan masalah. Konsep seperti ini lebih tinggi tarafnya daripada abstraksi yang ciri-cirinya dapat diamati langsung. Jadi konstruk adalah konsep sedangkan tidak semua konstruk adalah konsep.[9] Menjadikan konstruk yang dapat kita ukur disebut operasionalisasi. Kata kerjanya mengoperasionalisasikan.4.      Proposisi

Proposisi adalah hubungan yang logis antara dua konsep.

 

B.     Teori yang Diperlukan dalam Penelitian dan Sumbernya


  1. Deduksi


Alam Konkrit

Alam Abstrak

Pengetahuan

Induksi

Fakta

Pengujian/ Penelitian

Hipotesis

 

Mengikuti proses terbentuknya ilmu pengetahuan seperti yang digambarkan dengan lingkaran/bagan di atas, dapat kita mengerti bahwa makin sering diuji dengan data (riset), maka derajat pengetahuannya makin tinggi. Dan apabila pengujiannya dengan data-data tersebut dilakukan dengan mengunakan prosedur ilmiah, maka pengetahuan yang diperoleh merupakan pengetahuan ilmiah yang disebut “Science-Ilmu pengetahuan”. Science inilah yang kemudian menelorkan teori ilmiah, “The basic aim of science is theory”.[10]

Dilihat dari proses hubungan antara teori dan riset, maka teori yang disusun dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu

1.      Teori deduktif hipotetis

Teori ini umumnya terdiri atas seperangkat hipotesis yang kemudian membentuk suatu system deduktif. Artinya teori ini tersusun dari seperangkat proposisi hipotesis, kemudian dari hipotesis-hipotesis yang lebih tinggi ditarik serangkaian deduksi secara logis. Bila disusun bagannya adalah sebagai berikut:[11]

Teori

Konsepsi-konsepsi logis, hipotesis-hipotesis, spekulasi, a priori

 

Dalam proses ini, ternyata penelitian empiris tidak ikut berperan. Teori sepenuhnya disusun berdasarkan renungan atau spekulasi tanpa didasari oleh data empiris.

2.      Teori Induktif-empiris

Teori ini disusun atas dasar data empiris. Dengan mendeskripsi dan menganalisis data empiris, kita dapat menyusun konsep-konsep dan hipotesis-hipotesis, yang kemudian bisa muncul teori sebagai penjelasan dari data-data empiris tersebut. Bila digambar bagannya adalah sebagai berikut:

Data

Deskriptif Data

Konsepsi, hipotesis yang berdasarkan data

Teori

 

Dalam penyusunan teori yang macam kedua ini, penelitian justru menduduki tempat yang menentukan. Dalam hal ini justru data hasil penelitian menjadi sumber pokok penyususunan teori.

3. Teori spekulatif-empiris

Teori ini disusun atas dasar pengetahuan umum atau ilmu pengetahuan yang ada. Dengan cara deduktif disusunlah hipotesis-hipotesis. Kemudian hipotesis-hipotesis itu diuji dengan data-data empiris. Dari hasil pengujian inilah yang kemudian muncul suatu teori. Bagannya adalah sebagai berikut:

Teori

Konsepsi

atau hipotesis

Data

 

Kedudukan riset dalam teori yang macam ketiga inilah yang member peluang besart berkembangnya ilmu pengetahuan. Hal ini sesuai dengan tujuan penelitian yaitu menemukan ilmu yang baru atau mengembangkan ilmu yang sudah ada atau menguji kebenaran ilmu yang sudah ada.[12] Pencapaian tujuan riset inilah yang memperkembangkan ilmu pengetahuan.

C.    Hubungan teori dengan fakta dan masalah

Science mempunyai konsep tersendiri tentang teori dan fakta serta hubungan antara keduanya. Fakta adalah hasil observasi yang dapat dibuktikan secara empiris. Teori menunjukan hubungan antara fakta-fakta. Teori menyusun fakta-fakta dalam bentuk yang sistematis sehingga dapat dipahami. Fakta tidak dapat mengembangkan ilmu pengetahuan jika dikumpulkan tanpa system. System disusun berdasarkan teori. Tanpa system, tanpa teori, science tidak dapat mengadakan ramalan atau prediksi tentang apa yang akan terjadi dalam kondisi tertentu (jika…, maka…). Jadi fakta dalam ilmu pengetahuan adalah hasil observasi, bukan secara acakan, akan tetapi relevan dan bertalian dengan teori. Maka karena itu teori dan fakta saling berhubungan. Perkembangan ilmu pengetahuan terjadi berkat interaksi antara fakta dan teori.

Teori merupakan alat science yang penting sekali. Fungsinya antara lain:

  1. Teori mengarahkan perhatian. Teori member orientasi atau arah kepada penelitian dan dengan demikian membatasi fakta-fakta yang harus dikumpulkan dan dipelajari dari dunia kenyataan yang luas. Tiap ilmu pengetahuan dan tiap spesialisasi membatasi gejala-gejala bidang penelitiannya sehingga dapat dikuasai. Teori dapat membantu menentukan fakta-fakta mana yang relevan bagi suatu penelitian.
  2. Teori merangkum pengetahuan. Teori merangkum fakta-fakta dalam bentuk generalisasi dan prinsip-prinsip, sehingga fakta-fakta lebih mudah dipahami dalam rangka generalisasi itu. Teori juga mencoba melihat hubungan antara generalisasi-generalisasi yang serba kompleks dengan membentuk sistem-sistem pemikiran ilmiah.
  3. Teori meramalkan fakta. Dengan teori dicoba meramalkan kejadian yang akan dating dengan mempelajari kondisi-kondisi yang menuju kepada kejadian itu. Teknologi di dunia barat dan perkembangan industry menimbulkan urbanisasi dan gejala ini merenggangkan hubungan kekeluargaan tradisional. Majunya teknologi modern di Negara-negara yang berkembang diramalkan akan menimbulkan hal-hal yang bersamaan. Namun ilmu-ilmu sosial belum cukup berkembang untuk mengadakan ramalan atau prediksi seperti yang dapat dilakukan dalam ilmu-ilmu pengetahuan alam.

Sedangkan peranan atau fungsi fakta antara lain:

  1. Fakta dapat merupakan alas an untuk menolak teori yang ada. Tiap teori harus cocok dengan fakta. Bila fakta tidak sesuai dengan teori yang berlaku, maka teori itu harus ditolak atau dirumuskan kembali dengan memhitungkan fakta yang tadinya belum tercakup oleh teori itu.
    1. Fakta menyebabkan lahirnya teori baru. Ada kalanya suatu fakta yang diamatai secara kebetulan menimbulkan teori baru seperti penemuan penisilin. Kadang-kadang fakta-fakta yang biasa, dipandang dari segi baru, misalnya mimpi dari segi pandangan Freud.
    2. Fakta dapat juga memberi dorongan untuk mempertajam atau memperluas rumusan teori yang telah ada.

Dalam penelitian masalah memegang peranan utama. Tanpa masalah tak ada penelitian. Masalah adalah jiwa penelitian.

Masalah mendorong untuk berfikir, menyelidiki agar menemukan makna sesuatu. Masalah harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga merangsang untuk berfikir. Masalah penelitian harus mendorong pemahaman yang lebih mendalam, lebih fundamental, prinsipil dan kausal, seperti “Apa sebab alat peraga mempengaruhi proses belajar.”

Dalam thesis dan disertasi peneliti sering panjang lebar bicara tentang latar belakang masalah, sedangkan masalah hanya disebut dalam beberapa kalimat. Justru masalah yang perlu mendapat pemikiran yang banyak agar kita pahami seluk beluknya

S. Nasuition mengatakan:[13]

“Dalam pengalaman kami selama membimbing penulisan thesis dan disertai kami lihat berulang kali bahwa bagian “Latar Belakang M<asalah” sering disalahgunakan untuk “omong” panjang lebar, ada kalanya sampai 20-30 halaman. Uraiannya tak jelas ujung pangkalnya karena tidak terikat oleh rumusan masalahnya, sehingga penelitian merasa bebas untuk bicara sesuka hatinya saja. Masalahnya sendiri baru dirumuskan setelah  beberapa puluh halaman. Maka krarena itu kami anjurkan agar “Latar Belakang Masalah” ditulis setelah masalah dirumuskan”

Maksud Latar Belakang Masalah yang utama adalah menjelaskan bahwa masalah yang kita pilih memang suatu masalah, bahkan suatu masalah yang sedang dihadapi dalam masyarakat jadi bukan masalah yang dibuat-buat saja yang tak ada relevansinya dengan kehidupan masyarakat. Ada kriteria ilmiah yang perlu diperhatikan, yang pada pokoknya mensyaratkan agar masalah penelitian itu member sumbangan kepada perkembangan pengetahuan antara lain:

  1. Masalah itu hendaknya bertalian dengan konsep-konsep yang pokok
  2. Masalah itu hendaknya mengembangkan atau memperluas cara-cara mentest suatu teori
  3. Masalah itu memberikan sumbangan kepada pengembangan metodologi penelitian denganm menemukan alat, teknik, atau metode baru
  4. Masalah itu hendaknya memanfaatkan konsep-konsep, teori, atau data dan teknik dari disiplin-disiplin yang bertalian
  5. Masalah hendaknya dituangkank dalam disain yang cermat dengan uraian yang teliti mengenai variabel-variabelnya serta mengfgunakan metode-metode yang paling serasi.


BAB III

PENUTUP

 A.    Kesimpulan

  1. Teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstrak, dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antarkonsep.
  2. Menurut Kerlinger teori adalah sebagai serangkaian bagian (variabel), definisi dan dalil yang saling berhubungan yang dihadirkan sebuah pandangan sistematis tentang fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah.
  3. Menurut Hopkins teori adalah sebagai serangkaian hipotesa.
  4. Menurut Kinayati Djojosuroto & M.L.A. Sumaryati, teori digolongkan kepada empat macam, yaitu asumsi, konsep, konstruk, dan proposisi.
  5. Ada tiga teori yang dapat digunakan dalam penelitian, yaitu:
    1. Teori deduktif hipotesis
    2. Teori induktif-empiris
    3. Teori spekulatif-empiris
    4. Antara teori, fakta, dan masalah mempunyai hubungan yang sangat erat. Teori yang tidak sesuai dengan fakta, berarti penelitian tidak bersifat ilmiah. Begitu juga dengan masalah yang tidak teoritis dan factual akan sulit untuk dipertanggungjawabkan.

 

B.     Kritik dan Saran

Sepanjang uraian yang telah pemakalah paparkan dalam makalah ini, pemakalah menyadari tidak lepas dari kekurangan dan kekhilafan. Di samping itu barangkali masih jauh dari kesempurnaan. Maka pemakalah sangat mengharapkan ide-ide yang cemerlang dari pembaca untuk memberikan kritikan dan saran yang mendukung makalah ini. Supaya tercapai apa yang kita inginkan.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

 

Bungin, M. Burhan, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Jakarta: Kencana, 2008

Djojosuroto, Kinayati, & M.L.A. Sumaryati, Prinsip-Prinsip Penelitian Bahasa & Sastra. Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia, 2004

Hasan, M. Iqbal, Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Bogor: Ghalia Indonesia, 2002

Kasiram, Moh., Metodologi Penelitian, Refleksi Pengembangan dan Penguasaan Metodologi Penelitian, Malang: UIN-Malang Press, 2008

Prasetyo, Bambang, & Lina Miftahul Jannah, Metode Penelitian Kuantitatif, Teori dan Aplikasi, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2006

S. Nasution, Metode Research, Penelitian Ilmiah, Bandung: Jemmars, 1991

 


[1] Kinayati Djojosuroto & M.L.A Sumaryati, Prinsip-Prinsip Penelitian Bahasa & Sastra. Bandung, Yayasan Nuansa Cendekia: 2004, h. 17

[2] S. Nasution, Metode Research, Penelitian Ilmiah, Bandung, Jemmars: 1991, h. 4

[3] Moh. Kasiram, Metodologi Penelitian, Refleksi Pengembangan dan Penguasaan Metodologi Penelitian, Malang: UIN-Malang Press, 2008 h. 36

[4] Kinayati, Op. Cit., h 20

[5] Bambang Prasetyo, & Lina Miftahul Jannah, Metode Penelitian Kuantitatif, Teori dan Aplikasi, Jakarta, PT. RajaGrafindo Persada: 2006 h.28

[6] Bambanng Prasetyo, & Lina Miftahul Jannah, Op. Cit. h. 31

[7] M. Iqbal Hasan, Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Bogor, Ghalia Indonesia: 2002 h. 17

[8] M. Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Jakarta, Kencana: 2008 h. 57

[9] Kinayati Djojosuroto & M.L.A. Sumaryati. Op. Cit. h.18-19

[10] Fred N. Kerlinger, 1973: 8 dalam Moh. Kasiram. Metodologi Penelitian, Refleksi Pengembangan dan Penguasaan Metodologi Penelitian, Malang: UIN-Malang Press, 2008 h. 42

[11] Moh. Kasiram, Op. Cit. h. 43

[12] Hadi, 1980: 3 dalam Moh. Kasiram, Op. Cit h. 44

[13] S. Nasution, Op. Cit. h. 19

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s