ILMU KALAM, ILMU AKIDAH, & ILMU TAUHID


BAB II

ILMU KALAM, ILMU AKIDAH, & ILMU TAUHID

A.    ILMU KALAM

  1. Pengertian

Kalam  menurut bahasa ialah ilmu yang membicarakan/membahas tentang masalah ke-Tuhanan/ketauhidan (meng-Esakan Tuhan), atau kalam menurut loghatnya ialah omongan atau perkataan.[1] Sedangkan menurut istilah Ilmu Kalam ialah sebagai berikut:

a.       Menurut Ibnu Khaldun, Ilmu Kalam ialah ilmu yang berisi alasan –alasan mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil pikiran dan berisi bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepecayaan aliran golongan salaf dan ahli sunah

b.      Menurut Husain Tripoli, Ilmu Kalam ialah ilmu yang membicarakan bagaimana menetapkan kepercayaan-kepercayaan keagamaan agama Islam dengan bukti- bukti yang yakin

c.       Menurut Syekh Muhammad Abduh definisi Ilmu Kalam adalah ilmu yang membahas tentang wujud Allah, sifat-sifat yang wajib bagi-Nya, sifat-sifat yang jaiz bagi-Nya dan tentang sifat-sifat yang ditiadakan dari-Nya dan juga tentang rasul-rasul Allah baik mengenai sifat wajib, jaiz dan mustahil dari mereka[2]

d.      Menurut Al-Farabi definisi Ilmu Kalam adalah disiplin ilmu yang membahas Dzat dan Sifat Allah beserta eksistensi semua yang mungkin mulai yang berkenaan dengan masalah dunia sampai masalah sesudah mati yang berlandaskan doktrin Islam

e.       Menurut Musthafa Abdul Razak, Ilmu Kalam ialah ilmu yang berkaitan dengan akidah imani yang di bangun dengan argumentasi-argumentasi rasional[3]

  1. Asal- Usul Sebutan Ilmu Kalam

Ilmu ini di namakan Ilmu Kalam karena:

a.       Persoalan terpenting yang menjadi pembicaraan abad-abad permulaan hijrah ialah ”Firman Tuhan” (Kalam Allah) dan non-azalinya Qur’an (Khalq Al-Qur’an)

b.      Dasar Ilmu Kalam ialah dalil-dalil pikiran dan pengaruh dalil-dalil ini nampak jelas dalam pembicaraan-pembicaraan Mutakallimin. Mereka jarang-jarang kembali kepada dalil naql (Quran dan Hadits), kecuali sesudah menetapkan benarnya pokok persoalan lebih dahulu

c.       Karena cara pembuktian kepercayaan-kepercayaan agama menyerupai logika dalam fisafat, maka pembuktian dalam soal-soal agama ini di namai Ilmu Kalam untuk membedakan dengan logika dalam fisafat

Ilmu Kalam juga dinamakan Ilmu Tauhid, tauhid ialah percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada sekutu baginya. Ilmu Kalam dinamakan Ilmu Tauhid, karena tujuannya ialah menetapkan keesaan Allah dalam Zat dan perbuatan-Nya dalam menjadikan alam semesta dan hanya Allah yang menjadi tempat tujuan terakhir alam ini.

Ilmu Kalam juga dinamakan Ilmu Aqaid atau Ilmu Ushuludin, karena persoalan kepercayaan yang menjadi pokok ajaran agama itulah yang menjadi pokok pembicaraannya.[4]

Ilmu kalam menyerupai Ilmu Theologi, terdiri dari dua kata yaitu ”Theo” artinya ”Tuhan” dan ”Logos”  artinya ”Ilmu” jadi theologi bermakna ilmu tentang ketuhanan.

  1. Sejarah Munculnya Ilmu Kalam

Faktor-faktor yang mempengaruhi lahirnya Ilmu Kalam, diantaranya ada dua macam yaitu:

a.       Faktor-Faktor Dari Dalam

1)      Al-qur’an sendiri disamping ajakannya kepada tauhid dan memercayai kenabian dan hal-hal yang berhubungan dengan itu, menyinggung pula golongan-golongan dan agama-agama yang ada pada masa Nabi Muhammad saw., yang mempunyai kepercayaan-kepercayaan yang tidak benar. Qur’an tidak membenarkan kepercayaan mereka dan membantah alasan-alasannya, antara lain:

a)      Golongan yang mengingkari agama dan adanya tuhan dan mereka mengatakan bahwa yang menyebabkan kebinasaan dan kerusakan hanyalah waktu saja (Q.S. Al-Jatsiyah (45): 24)

Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”

b)      Golongan -golongan syirik (Q.S. Al-Maidah (5): 116)

 “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.”

c)      Golongan-golongan kafir (Q.S. Al-Isra’ (17): 94)

 “Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali Perkataan mereka: “Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI?””

d)     Golongan -golongan munafik (Q.S. Ali Imran (3): 154)

“Kemudian setelah kamu berduka cita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. mereka Menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha mengetahui isi hati.”

Tuhan membantah alasan-alasan mereka dan memerintahkan Nabi Muhammad untuk tetap menjalankan dakwahnya dengan cara yang halus, Firman Allah Q.S. An-Nahl (16): 125

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

2)      Adanya nas-nas yang kelihatannya saling bertentangan, sehingga datang orang- orang yang mengumpulkan ayat tersebut dan memfilsafatinya. Contohnya; adanya ayat-ayat yang menunjukkan adanya paksaan (jabr), (Q.S. Al-Baqarah(2): 6, Al-Muddsir(74):17

Soal-soal politik, contoh soal khilafat (pimpinan pemerintahan negara). Pergantian pemimpin umat sesudah  meninggalnya Rasulullah. Awalnya persoalan politik tidak mengusik persoalan agama, tapi setelah peristiwa terbunuhnya khalifah Usman, kaum muslimin terpecah menjadi beberapa partai, yang masing-masing merasa sebagai pihak yang benar dan hanya calon dari padanya yang berhak menduduki pimpinan negara. Kemudian partai-partai itu menjadi partai agama dan mengemukakan dalil-dalil Agama untuk

membela pendiriannya. Dan selanjutnya perselisihan antara mereka menjadi perselisihan agama, dan berkisar pada persoalan  iman dan kafir.

Peristiwa terbunuhnya Usman menjadi titik yang jelas dari permulaan berlarut-larutnya perselisihan bahkan peperangan antara kaum muslimin. Sebab sejak saat itu, timbullah orang yang menilai dan menganalisa pembunuhan tersebut di samping menilai perbuatan Usman r.a., sewaktu hidupnya.menurut segolongan kecil, Usman r.a., salah bahkan kafir dan pembunuhnya berada di pihak yang benar, karena perbuatannya yang dianggap salah selama memegang khilafat. Sebaliknya pihak lain mengatakan bahwa pembunuhan atas Usman r.a. adalah kejahatan besar dan pembunuh-pembunuhnya adalah orang-orang kafir, karena Usman adalah khalifah yang sah dan salah seorang prajurit Islam yang setia. Penilaian yang saling bertentangan kemudian menjadi fitnah dan peperangan yang terjadi sewaktu Ali r.a memegang pemerintahan.

Dari sinilah mulai timbulnya persoalan besar yang selama ini banyak memenuhi buku-buku ke-Islaman, yaitu melakukan kejahatan besar, yang mula-mula dihubungkan dengan kejadian khusus, yaitu pembunuhan terhadap Usman r.a, kemudian berangsur-angsur manjadi persoalan yang umum, lepas dari siapa orangnya. Kemudian timbul soal-soal lainnya, seperti soal Iman dan hakikatnya, bertambah atau berkurangnya, soal Imamah dan lain-lain persoalan.

Kemudian soal dosa tersebut, dilanjutkan lagi, yaitu sumber kejahatan atau sumber perbuatan dilingkungan manusia. Karena dengan adanya penentuan sumber ini mudah diberikan vonis kepada pelakunya itu. Kalau manusia itu sendiri sumbernya, maka soalnya sudah jelas, akan tetapi kalau sumber sebenarnya Tuhan sendiri. Dan manusia itu sebagai pelakunya (alat), maka pemberian keputusan bahwa manusia itu berdosa atau kafir masih belum jelas. Timbullah golongan Jabbariyah yang mengatakan bahwa semua perbuatan itu dari Tuhan dan golongan Qodariyah yang mengatakan bahwa manusialah yang bertanggung jawab sepenuhnya atas segala perbuatannya. Kemudian timbul pula  golongan-golongan lain, seperti Mu’tazilah, Asy’ariyah, yang membicarakan persoalan tersebut (perbuatan manusia).

b.      Faktor-faktor lain yang datangnya dari luar

1)      Banyak di antara pemeluk-pemeluk Islam yang mula-mula  beragama Yahudi, Masehi, dan lain-lain, bahkan diantara mereka ada yang pernah menjadi ulamanya. Setelah mereka tenang dari tekanan kaum muslimin mulailah mereka mengkaji lagi aqidah-aqidah agama mereka dan mengembangkan ke dalam Islam

2)      Golongan Islam yang dulu, terutama golongan Mu’tazilah, memusatkan perhatiannya untuk penyiaran Islam dan membantah alasan mereka yang memusuhi Islam, dengan cara mengetahui dengan sebaik-baiknya aqidah-aqidah mereka

3)      Sebagai kelanjutan dari sebab tersebut, Mutakallimin hendak mengimbangi lawan-lawannya yang menggunakan filsafat, maka mereka terpaksa mempelajari logika dan filsafat

Ilmu Kalam disebut sebagai ilmu yang berdiri sendiri yaitu pada masa Daulah Bani Abbasiyah di bawah pimpinan khalifah al-Makmun, yang dipelopori oleh dua orang tokoh Islam yaitu Abu Hasan al-Asy’ari dan al-Maturidi

 

  1. Ruang Lingkup Ilmu Kalam

Pokok permasalahan Ilmu Kalam terletak pada tiga persoalan, yaitu:

a.       Esensi Tuhan itu sendiri dengan segenap sifat-sifat-Nya. Esensi ini dinamakan Qismul Ilahiyat. Masalah-masalah yang diperdebatkan yaitu:

1.      Sifat-sifat Tuhan, apakah memang ada Sifat Tuhan atau tidak. Masalah ini di perdebatkan oleh aliran Mu’tazilah dan Asy’ariyah.

2.      Qudrat dan Iradat Tuhan. Persoalan ini menimbulkan aliran Qadariyah dan Jabbariyah.

3.      Persoalan kemauan bebas manusia, masalah ini erat kaitannya dengan Qudrat dan Iradat Tuhan.

4.      Masalah Al-Qur’an,  apakah makhluk atau tidak dan apakah Al-Qur’an azali atau baharu.

b.      Qismul Nububiyah, hubungan yang memperhatikan antara Kholik dengan makhluk, dalam hal ini membicarakan tentang:

1.      Utusan-utusan Tuhan atau petugas-petugas yang telah di tetapkan Tuhan melakukan pekerjaan tertentu yaitu Malaikat.

2.      Wahyu yang disampaikan Tuhan sendiri kepada para rasul-Nya baik secara langsung maupun dengan perantara Malaikat.

3.      Para Rasul itu sendiri yang menerima perintah dari Tuhan untuk menyampaikan ajarannya kepada manusia.

c.       Persoalan yang berkenaan dengan kehidupan sesudah mati nantinya yang disebut  dengan Qismul Al-Sam’iyat. Hal ini meliputi hal-hal sebagai berikut:

1.      Kebangkitan manusia kembali di akhirat

2.      Hari perhitungan

3.      Persoalan shirat (jembatan)

4.      Persoalan yang berhubungan dengan tempat pembalasan yaitu surga atau neraka

d.      Ayat yang berkaitan dengan ruang lingkup Ilmu Kalam, Dalam surat al-Baqarah ayat 177 yang berbunyi:

”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa

Dan dalam hadits Rasulullah saw.:

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .   [رواه مسلم]

Dari Umar Radhiallahu Anhu dia berkata : Ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah saw., suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk di hadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada lututnya (Rasulullah saw.) seraya berkata: “Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah saw.: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu“, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “Beritahukan aku tentang Iman“. Lalu beliau bersabda: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk“, kemudian dia berkata: “anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang Ihsan“. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya“. Dia berkata:  “Beritahukan aku tentang tanda-tandanya“, beliau bersabda:  “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya“, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullahe) bertanya: “Tahukah engkau siapa yang bertanya ?” aku berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui“. Beliau bersabda: “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian“. (Riwayat Muslim)

 

Dari ayat dan hadits di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ruang lingkup Ilmu Kalam adalah Rukun Iman yang enam.

B.     AQIDAH

Aqidah berasal dari kata ”Aqad” yang berarti ”Pengikatan”. Akidah adalah apa yang diyakini seseorang. Jika dikatakan , ”dia mempunyai aqidah yang benar”, berarti aqidahnya bebas dari keraguan. Akidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya terhadap sesuatu. Adapun makna Akidah secara Syara’ adalah iman kepada Allah , para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, serta kepada qadar baik dan qadar buruk. Akidah yang benar adalah fundament bagi bangunan Agama serta merupakan syarat sahnya amal. Hal ini sebagaimana Firman Allah Q.S. Al-kahfi: 110 [5]

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”

Ilmu Kalam disebut Ilmu Aqidah karena pokok pembicaraannya ialah pokok-pokok kepercayaan agama yang menjadi dasar agama Islam. Jadi Aqidah Ilmu Kalam ialah ilmu yang mempelajari ikatan/keyakinan seseorang tentang masalah ketuhanan dengan menggunakan dalil-dalil fikiran disertai dalil naqli.

C.    TAUHID

Menurut bahasa Tauhid berasal dari bahasa Arab, masdar dari kata وحّد يوحّد artinya: keesaan sedangkan menurut istilah ialah sebagai berikut:

1.      Menurut Husain Affandi al-Jasr, Tauhid ialah ilmu yang membahas hal-hal menetapkan akidah agama dengan dalil yang meyakinkan[6]

2.      Menurut M Abduh, Ilmu Tauhid adalah suatu ilmu membahas tentang wujud Allah, sifat-sifat wajib bagi-Nya sifat-sifat yang boleh dan yang tidak boleh disifati kepada-Nya. Di samping itu Ilmu Tauhid juga menyikapi Rasul-rasul Allah guna menetapkan risalah mereka, yang boleh mereka nasabkan dan apa yang dilarang atas mereka[7]

3.      Prof. M. Tharir A Muin, Ilmu Tauhid adalah ilmu yang menyelidiki dan membahas soal yang wajib, jaiz, dan mustahil bagi Allah dan bagi sekalian utusan-utusan-Nya, dan juga mengupas dalil-dalil yang mungkin cocok dengan akal pikiran sebagai alat untuk membuktikan adanya Zat yang mewujudkan[8]

4.      Ilmu ini dinamakan Ilmu Tauhid karena pembahasannya yang paling menonjol adalah tentang ke-Esaan Tuhan yang asas pokok agama Islam, sebagaimana yang berlaku terhadap agama yang benar yang telah di bawa oleh para rasul yang di utus Allah.[9]

 

D.    HUBUNGAN AQIDAH ILMU KALAM DENGAN ILMU KEISLAMAN LAINNYA

Hubungan Ilmu Kalam dengan ilmu lainnya ialah:

1.      Perbedaan dengan Ilmu Fiqh

Tauhid berkaitan dengan soal batin (aqidah dan kepercayaan) sedangkan fiqh bertautan dengan hukum perbuatan lahir (ahkam amaliyah) atau tauhid membicarakan soal-soal aqidah yaitu dasar-dasar agama, sedangkan fiqh membicarakan soal-soal furu’ yaitu yang bertalian dengan perbuatan.

2.      Perbedaan Tauhid dengan Tasawuf

Perbedaan keduanya meliputi metode dan objek pembicaraan yaitu Tauhid bercorak mewarnai aqidah-aqidah agama dengan rasio (akal pikiran), bahkan lebih condong untuk menkonstruksikannya di atas dasar akal pikiran, sedangkan Tasawuf Islam bertujuan merasai (mengenyam) aqidah dengan nurani, bukan dengan jalan memperbincangkannya menurut metode akal pikiran.

3.      Perbedaan Tauhid dengan Filsafat Islam

    1. Dalam Ilmu Kalam, Filsafat dijadikan alat untuk membenarkan ayat-ayat al-Qur’an, dalam Filsafat Islam ayat-ayat al-Qur’an dijadikan bukti untuk membenarkan hasil-hasil Filsafat
    2. Dalam pembahasan Ilmu Kalam akal dibatasi dari pembahasan-pembahasan hal-hal yang sudah dimustahilkan membahasnya oleh al-Qur’an, sedangkan dalam Filsafat Islam akal diberi kebebasan untuk memikirkan segala sesuatu yang ada

4.      Titik Persamaan Ilmu Kalam dengan Filsafat dan Tasawuf

Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawwuf mempunyai objek kemiripan. Objek Ilmu Kalam ketuhanan dan yang berkaitan dengan-Nya. Objek kajian Filsafat adalah masalah ketuhanan di samping masalah alam, manusia, dan segala sesuatu yang ada. Sementara itu objek kajian Tasawuf adalah Tuhan, yakni upaya-upaya pendekatan terhadap-Nya. Jadi dilihat dari aspek objeknya, ketiga ilmu itu membahas masalah yang berkaitan dengan ketuhanan. Argumentasi Filsafat sebagaimana Ilmu Kalam dibangun di atas dasar logika. Oleh karena itu, hasil kajiannya bersifat spekulatif (dugaan yang tak dapat dibuktikan secara empiris, riset, dan eksperimen). Baik Ilmu Kalam, Filsafat, maupun Tasawwuf berurusan dengan hal yang sama, yaitu kebenaran yang rasional.

5.      Titik Perbedaan Ilmu Kalam dengan Filsafat dan Tasawuf

Perbedaan diantara ketiga ilmu itu tersebut terletak pada aspek metodologinya. Ilmu kalam , sebagai ilmu yang menggunakan logika di samping argumentasi-argumentasi naqliyah berfungsi untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama, yang sangat tampak nilai-nilai ketuhananya . Sebagian ilmuwan bahkan mengatakan bahwa ilmu ini berisi keyakinan-keyakinan kebenaran, praktek dan pelaksanaan ajaran agama, serta pengalaman keagamaan yang dijelaskan dengan pendekatan rasional. Sementara filsafat adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional. Metode yang digunakannya pun adalah metode rasional. filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menuangkan (mengembarakan atau mengelana) akal budi secara radikal (mengakar) dan integral (menyeluruh) serta universal tidak merasa terikat oleh ikatan apapun kecuali oleh ikatan tangannya sendiri yang bernama logika. Adapun ilmu tasawwuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa dari pada rasio. Sebagai sebuah ilmu yang prosesnya diperoleh dari rasa, ilmu tasawwuf bersifat subyektif, yakni sangat berkaitan dengan pengalaman seseorang. Dilihat dari aspek aksiologi (manfaatnya), teologi diantaranya berperan sebagai ilmu yang mengajak orang yang baru untuk mengenal rasio sebagai upaya mengenal Tuhan secara rasional. Adapun filsafat, lebih berperan sebagai ilmu yang mengajak kepada orang yang yang mempunyai rasio secara prima untuk mengenal Tuhan secara lebih bebas melalui pengamatan dan kajian langsung. Adapun tasawwuf lebih peran sebagai ilmu yang memberi kepuasan kepada orang yang telah melepaskan rasionya secara bebas karena tidak memperoleh yang ingin dicarinya. Sebagian orang memandang bahwa ketiga ilmu itu memiliki jenjang tertentu . jenjang pertama adalah ilmu kalam, kemudian filsafat dan yang terakhir adalah ilmu tasawwuf.

BAB III

PENUTUP

 

A.    KESIMPULAN

Dari uraian panjang lebar di atas dapa disimpilkan:

1.      Ilmu Kalam adalah ilmu yang mempelajari tentang ikatan/keyakinan seseorang tentang masalah ketuhanan dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan disertai dalil Naqli. Nama-nama Ilmu Kalam yaitu Ilmu Ushuluddin, Ilmu Tauhid, dan Teologi Islam. dan ruang lingkupnya adalah tentang meng-Esakan Tuhan yang diperkuat dengan dalil-dalil irasional agar terhindar dari aqidah-aqidah yang menyimpang

2.      Sejarah munculnya Ilmu Kalam adalah ketika Rasulullah meninggal dunia dan peristiwa terbunuhnya Usman di mana antara golongan yang satu dengan yang lain saling mengkafirkan dan menganggap golongannya yang paling benar. dan sumber-sunber Ilmu Kalam adalah dalil naqli (al-Qur’an dan al-Hadits) dan dalil aqli (dalil fikiran)

3.      Faktor timbulnya Ilmu Kalam ada dua yaitu faktor intern dan ekstern.

4.      Hubungan Ilmu Kalam dengan Ilmu ke-Islaman lainnya (filsafat dan tasawuf) mempunyai persamaan dan perbedaan


 

DAFTAR KEPUSTAKAAN

 

-          Dusar, Bakri. Tauhid dan Ilmu Kalam. IAIN IBP Press. Padang: 2001

-          Hanafi, Ahmad. Teologi Islam (Ilmu Kalam). Bulan Bintang. Jakarta: 2001

-          Abdul Razak, Mustafa. Tahmid Li Tarikh al-Falsafah al-Islamiyah, Lajnah wa at-Thalif wa-Attarjamah wa Nasyir, 1959

-          Asmuni, M. Yusran. Ilmu Tauhid. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta: 1996

-          Jaya, Yahya , Teologi Agama Islam Klasik. Angkasa Raya. Padang : 2000

-          Muin, M. Tharir A Ikthtisar Ilmu Tauhid.  Yogyakarta

-          Ash-Shidieqy, Tengku M. Hasbi. Sejarah Dan Pengantar Ilmu Tauhid/kalam. PT. Pustaka Putra. Semarang :1999

-           Abduh, Muhammad. Risalah Tauhid. Bulan bintang. Jakarta.1965

-          Murni. Tauhid/Ilmu Kalam. Padang: 2007


BAB IV

AQIDAH ISLAM, POKOK DAN CABANG

 (ALAM DAN PROSES PENCIPTAANNYA, NABI DAN RASUL)

 

A.    Nabi dan Rasul

Beriman kepada Rasul-Rasul Allah merupakan rukun iman ke empat. Pengertian beriman kepada para nabi atau Rasul atau Nabi ialah meyakini atau mempercayai bahwa Allah telah memilih beberapa orang di antara manusia, memberikan wahyu kepada mereka dan menjadikan mereka sebagai utusan (Rasul) untuk membimbing manusia ke jalan yang benar. Allah berfirman : Qs. Yunus: 47

Kata Nabi berasal dari bahasa Arab “Naba” yang artinya pemberitahuan yang besar faedahnya, yang menyebabkan orang mengetahui sesuatu. Adapun menurut istilah, Nabi ialah orang yang diberi informasi oleh Allah tentang ke-Esaan-Nya dan dibukakan kepadanya rahasia zaman yang akan datang, dan diberi tahu ia adalah utusan-Nya.

Para ulama membedakan antara Nabi dan Rasul. Nabi adalah seseorang yang menerima wahyu untuk dirinya sendiri tanpa berkewajiban menyampaikan wahyu itu kepada umat. Sedangkan Rasul adalah seseorang yang menerima wahyu dari Tuhan untuk dirinya dan di bebani tugas untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada umatnya[10].

Nabi juga disebut Rasul yang artinya utusan. Karena Nabi itu mempunyai dua kesanggupan yaitu menerima perintah dari Allah, dan Ia menyampaikan risalah itu kepada manusia, yang pertama Ia disebut nabi, dan yang kedua ia disebut Rasul. Tetapi kata rasul mempunyai arti yang lebih luas, sebab menurut makna aslinya dapat diterapkan pada sembarang utusan, dan para Malaikat juga disebut rasul, karena mereka juga mengemban risalah Tuhan untuk menyamakan kehendak-Nya.

Nabi yang diutus Allah sebelum Nabi Muhammad SAW, mempunyai tugas terbatas. Mereka hanya membimbing bangsa atau kaumnya untuk waktu dan wilayah tertentu, sedangkan Nabi Muhammad SAW. Diutus untuk seluruh umat manusia , tanpa batas wilayah dan tak terbatas oleh waktu sampai hari kiamat.

Rasul adalah manusia yang dipilih oleh Allah dari keturunan yang mulia, mereka mengemban tugas-tugas yang istimewa yaitu sebagai duta besar Allah dan makhluk berakal (manusia).kepada Rasul itu diperintahkan oleh Allah menyampaikan pelajaran dan hukum-hukum kepada umatnya baik yang berkenaan perbuatan yang mulia yang harus dikerjakan maupun perbuatan-perbuatan yang buruk yang dilarang melakukannya.

Sebagai pedoman Allah menurunkan kepada Rasul itu kitab suci yang mengandung perintah-perintah dan pengajaran-pengajaran yang harus disampaikan, dan berisi norma-norma dan hukum-hukum yang dipandang baik oleh Allah bagi keselamatan hamba-Nya.

Seorang nabi bukan saja mengemban amanat Illahi, melainkan ia harus pula menunjukkan bagaimana mempraktekkan amanat itu dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu nabi adalah contoh atau suri teladan yang harus di ikuti. Justru itu Rasul dikaruniai ketinggian fitrah kejadian itu mempunyai sifat-sifat yang utama seperti sehat akal, amanah dalam menyampaikan apa yang diperintahkan, benar dalam segala pembicaraannya dan terpelihara dari segala perangai yang jelek. Anggota badan mereka bersih dari cacat yang tidak sedap dipandang mata yang menyebabkan orang menjauhkan diri dari padanya. Roh mereka mempunyai nilai yang lebih tinggi di sisi Tuhan yang tidak mungkin ditandingi oleh roh manusia biasa. Adapun di bidang lain mereka sama sebagaimana manusia biasa, seperti makan, minum, tidur, kawin dan sakit.

Mereka diutus oleh Allah untuk mengajarkan tauhid, meluruskan akidah, membimbing cara beribadah dan memperbaiki akhlak manusia yang rusak. Di samping itu para Rasul didukung oleh kekuatan Tuhan yakni mu’jizat sesuatu yang tidak bisa diselami oleh akal dan di luar kemampuan manusia. Mu’jizat ini menjadi bukti atas kebenaran dakwah nya. Beriman kepada para utusan (Rasul) cukup secara global (ijmali), dan yang wajib diketahui ada 25 Rasul.

Masalah yang masih diperselisihkan dalam kaitannya dengan iman kepada para Nabi dan Rasul adalah mengenai jumlahnya. Sebagian ulama mengatakan bahwa jumlah seluruhnya adalah 124.000 orang. Dari sejumlah itu yang menjadi Rasul ada 313 orang.

  1. Kebutuhan Manusia Kepada Rasul

Persoalan ini telah merupakan pertentangan paham di antara para sarjana.dalam masalah ini Muhammad Abduh dalam risalah Tauhidnya mengemukakan ada dua hal:

1.      Dimulai  dari kepercayaan tentang kekalnya roh sesudah mati.

2.      Tabiat manusia sendiri hidup secara berkelompok

a.      Kepercayaan Tentang Kekalnya Roh Sesudah Mati

Manusia sepakat tentang kekelnya Roh, tetapi mereka berbeda pendapat tentang : Menggambarkan tentang kekalnya roh, kemana perginya roh, dan jalan-jalan untuk membuktikannya. Ada yang mengatakan bahwa roh itu berpindah ke tubuh manusia/hewan, dan ada pula yang mengatakan kembali ke alam rohani yang bebas dari pengaruh materi. Di samping itu ada yang berpendapat bahwa roh itu segera menggabungkan diri dengan zat yang sangat halus (ether).

Perasaan itulah yang menggerakkan segala roh untuk merasakan kehidupan yang baqa lagi abadi dan mengenangkan bagaimana keadaannya bila ia telah sampai ke sana, bagaimana caranya mendapat petunjuk tentang itu dan manakah jalan yang harus dilaluinya. Namun diri mereka tidak diberi kekuatan untuk menembus rahasia apa-apa yang telah tersedia baginya dalam kehidupan di sana dan situasi-situasi yang akan ditemuinya. Maka merupakan hikmah kebijaksanaan Tuhanlah mengangkat orang-orang yang dipilihnya sendiri sebagai penghubung dua alam dunia dan akhirat. Mereka menerima perintah dari Allah untuk menerangkan:

  • Kebesaran Ilahi
  • Menerangkan kedaan yang menyangkut dengan sifat-sifat Allah,supaya menjadi kepercayaan yang merupakan sumber kebahagiaan di akhirat nanti
  • Tentang hal Ikhwal akhirat
  • Menyampaikan Syari’at-syari’at umum untuk mengatur diri mereka
  • Mengajarkan kerja-kerja yang membawa bahagia dan celaka kelak di alam ghaib.

b.      Tabi’at Manusia Sendiri Hidup Secara Berkelompok

Manusia sama halnya dengan bermacam-macam jenis makhluk lainnya, yang menurut naluri/tabi’atnya adalah hidup berkelompok. Tiap-tiap kelompok bekerja untuk kepentingan semua dalam mempertahankan kebaqaan hidupnya. Masing-masing mereka saling butuh membutuhkan. Manusia tidak bisa hidup kecuali dengan melalui masyarakat. Untuk itu rasa kasih sayang dalam masyarakat itu harus dibina.

Dalam hidupnya manusia mempunyai keinginan-keinginan dan dorongan-dorongan untuk mencapai kelezatan/kesenangan hidup. Kelezatan itu adakalanya bersifat jasmaniah dan adakalanya bersifat rohaniah.

Dalam mencapai kelezatan itu ada manusia menempuh jalan yang baik yaitu dengan berusaha secara wajar dan ada pula mencarinya dengan jalan yang tidak wajar.

Oleh karena itu untuk mempertahankan jenisnya dalam memelihara kebaqaannya perlulah umat manusia membina kasih sayang atau yang seumpamanya. Perlu adanya keadilan, memelihara hak dan kehormatan pribadi, serta undang-undang atau peraturan untuk menjamin tata tertib urusan manusia dalam segala bidang.

Semua manusia merasa dalam dirinya bahwa ia dikuasai oleh suatu kekuatan yang lebih tinggi dari kekuatan dirinya sendiri maupun dari kekuatan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Perasaan itu mendorong manusia untuk mengetahui kekuatan yang maha besar itu. Bermacam-macam anggapan dan dugaan manusia tentang kekuatan Yang Maha Tinggi itu. Namun rahasia kebesaran Tuhan itu sukar di selami oleh akal manusia, sehingga ia tidak bisa mengelakkan dirinya dari kebingungan. Karena kelemahan itu manusia butuh kepada pengajaran dan pimpinan dari luar dirinya sendiri. Maka Tuhan menjadikan di antara kalangan manusia itu sendiri para pemimpin yang akan memberikan pimpinan dan petunjuk.

  1. Fungsi Para Rasul

Nilai kedudukan para Rasul di antara bangsa-bangsa tak ubahnya seperti pentingnya akal pada setiap orang. Diutusnya mereka merupakan kebutuhan yang primer di antara banyak kebutuhan akal manusia dan merupakan suatu nikmat yang diberikan Tuhan kepada manusia. Kebutuhan itu adalah kebutuhan rohaniyah dan segala apa yang bersangkut paut dengan perasaan. Untuk menjelaskan secara terperinci segala seluk beluk mengenai kehidupan manusia sehari-hari, dan untuk mengajarkan bermacam-macam ilmu pengetahuan keduniaan bukanlah termasuk bidang tugas para Rasul, kecuali memberi garis besar yang umum saja.

Sedangkan yang menjadi bidang tugas para Rasul itu adalah :

a.       Membimbing akal untuk mengenal Allah dan mengenal sifat-sifat ke-Tuhanan yang wajib diketahui oleh manusia.

b.      Rasul-rasul itu menyatukan kepercayaan manusia untuk mengabdi hanya kepada satu Tuhan dan meratakan jalan antara manusia dan Tuhannya.

c.       Mereka mengajak manusia kembali kepada hidup rukun, dan melatih diri untuk menanamkan rasa cinta kasih.

d.      Meletakkan batas-batas larangan umum menurut yang diperintahkan Allah bagi umat manusia.

e.       Para Rasul mensyari’atkan kepada manusia supaya membentuk diri mereka dengan sifat-sifat utama seperti : benar, amanah, menepati janji, dan sebagainya.

 

B.     Alam dan Proses Penciptaannya

  1. Menurut kalangan Filosof

Adapun Penciptaan Alam menurut para filosof Islam :

  • Al-Farabi

Permasalahan yang muncul dalam kajian penciptaan alam ialah, apakah alam muncul langsung dari Tuhan atau tidak, kemudian apakah alam diciptakan dari tiada atau dari sesuatu yang ada. Menurut Al-Farabi, alam berasal dari Tuhan, namun melalui beberapa tahapan. Karena alam berasal dari Tuhan, maka alam diciptakan bukan dari tiada (al-maujudu minal ma’dum / creatio ex nihilio), melainkan dari suatu potensi (esensi) yang sudah ada, langsung dari Tuhan. Rumusan kedua ini tertuang dalam teori emanasi (hazriyat al-faydh)

Rumusannya :

Tuhan sebagai Akal berpikir tentang diri-Nya dan dari pemikirannya ini timbul satu wujud lain, yaitu akal pertama (first intellegence, atau wujud kedua. Akal pertama ini, karena ia berasal dari Tuhan yang esa, tanpa materi

(جوهر غير متجسم أصلا ولا مدة)

Kemudian akal pertama (wujud kedua)memikirkan Tuhan, lalu muncul akal ketiga. Akal ketiga memikirkan ketiga akal kedua, muncul akal keempat. Demikian seterusnya, sampai muncul akal yang kesepuluh. Setiap akal mempunyai wujud dan jiwanya masing-masing, sampai pada akal 10 (yang digelar sebagai an-nafs al-kull / jiwa universal). Dari akal 10 inilah terjadinya alam semesta termasuk manusia.

  • Ikhwanus Shafa

Al-farabi mengajukan teori emanasi (al-faydh), yaitu alam semesta memancar dari kesempurnaan wujud Allah. Akan tetapi bagi Ikhwanus Shafa menggunakan istilah lain yang disebut dengan “al-shudur”. Al-shudur pada prinsipnya mengetengahkan proses penciptaan alam melalui delapan tingkatan. Kedelapan fase tersebut :

-    Akal fa’al / akal kulli,Merupakan akal tertinggi, karena dia mampu berhubungan langsung dengan Allah, akal fa’al memiliki hubungan yang erat dengan Allah, disamping karena kemampuannya berhubungan dengan Allah, ia juga manifestasi dari Allah.

-    An-nafs al-kulliyah / Jiwa Universal, artinya inti dari jiwa seluruh alam semesta. Dari an-nafs al-kulliyah ini kehidupan, yaitu kehidupan tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia.

-    Al-hayula al-ula, yaitu materi pertama. Ketika jiwanya sudah tersedia, lalu muncul materi pertama, sebagai bahan dari segala alam materi. Hayula al-ula ini menjadi bahan dasar fisik dari benda-benda (ma’adin), termasuk tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia.

-    Al-thabi’ah al-fa’ilah, yaitu sifat-sifat natur yang melekat pada aflak dan unsur-unsur yang empat. Sifat natur itu seperti adanya api panas,dingin es dan lain sebagainya.

-    Jisim muthlaq, yaitu benda muthlaq yang riil sebagai perwujudan baru dari al-hayula al-ula.

-    Aflak, yaitu benda-benda angkasa yang sudah riil, sebagai perwujudan baru dari benda mutlak.

-    Al-anasir, yaitu unsur-unsur alam semesta seperti air, api, tanah dan angin.

-    Ma’adin (mineral), hayawanat (tumbuhan), insan( manusia) dan Nabatat (tumbuhan).

 

 

 

  1. Menurut Kalangan Ilmuwan

Menurut sudut pandang ilmiah ada beberapa teori tentang penciptaan alam, namun di sini pemakalah hanya memaparkan 2 teori :

o Teori Keadaan Tetap dan Teori Ekspansi dan Kontraksi

Teori ini berpendapat bahwa alam semesta tidak berawal dan tidak berakhir

o Teori Big Bang

Menurut teori ini alam semesta berasal dari masa yang sangat padat sekali, karena begitu padat, reaksi inti masa tersebut meledak. Masa yang meledak tersebut berserakan, mengambang dengan cepat menjauhi pusat ledakan, sehingga terbentuklah alam semesta. Adapun isi dari alam semesta tersebut adalah materi-materi hasil ledakan tadi. Setelah berjuta-juta tahun, masa yang berserakan itu berbentuk kelompok-kelompok. Kenyataan ini yang dikemukakan teori Big Bang, sekali lagi telah dinyatakan dalam Al-Quran empat belas abad yang lalu saat manusia memiliki kemampuan terbatas tentang alam semesta :

“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya pada langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya (QS Al Anbiyaa 30)”

Ini diartikan bahwa keseluruhan materi diciptakan melalui Big Bang atau ledakan raksasa dari satu titik tunggal dan membentuk alam semesta kini dengan cara pemisahan satu dari yang lain. Mengembangnya alam semesta adalah salah satu bukti terpenting yang ditunjukkan alam semesta yang diciptakan dari ketiadaan. Big Bang merupakan petunjuk nyata bahwa alam semesta telah diciptakan dari ketiadaan, dengan kata lain ia telah diciptakan Allah SWT.

  1. Menurut Kalangan Mutakallimin

Alam adalah segala sesuatu selain Allah. Berawal (hadis) atau tidak berawal (qadîm) nya alam, tergantung dari terbatas (mutanahi) atau tidak terbatas (ghair al-mutanahi) nya bagian yang melengkapi alam. Jika bagian yang melengkapi alam sampai pada batas tertentu (had mu’ayyan), maka batas paling akhir dari bagian tersebut itulah yang dinamakan al-jawhar al-fard (atom). Dengan kata lain al-jawhar al-fard adalah batas maksimal suatu pembagian. Disini para mutakallimîn sekaligus merobohkan argumen filsuf yang berasumsi alam itu qadîm (tak berawal). Para Mutakallimin  mengatakan : jism (corpuscle) yang dalam hal ini merupakan bagian dari alam, pada prakteknya ada keterpautan antara satu dengan yang lain. Karena secara kasat mata, misalnya, gajah berbeda dengan semut. Jika tidak terbatas (ghair almutanahi) sebagaimana asumsi para filsuf, maka tidak ada bedanya antara gajah dan semut. Padahal komponen yang tersusun dalam tubuh keduanya berbeda. Dan hal tersebut mustahil.

Jika sudah terbukti bahwa alam (segala sesuatu selain Allah) hadis (berawal), maka sebuah keniscayaan membutuhkan pada muhdis (pencipta). Karena hadis tarjih al-wujud ‘ala al-‘adam. Dalam arti, “wujud”nya alam karena mengalahkan kemungkinan “tidak ada”(‘adam). Sehingga mengharuskan ada kekuatan dari luar yang menjadikan alam tersebut ada dengan mengalahkan kemungkinan “tidak ada”. Sebagaimana seorang penulis bisa menjadikan ada dan tidak adanya sebuah tulisan. Adanya keinginan (menjadikan atau tidaknya sesuatu) tersebut itulah yang dalam istilah ilmu kalam dinamakan al-iradah

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Muhammad, Tauhid Ilmu Kalam,1998, Bandung : CV. Pustaka Setia

Aly, Abdullah dan Eny Rahma, 2008. Ilmu Alamiah Dasar, Bumi Aksara:Jakarta.

Nasution, Hasan Bakti, 2001. Filsafat Umum, Gaya Media Pratama : Jakarta

Sari, Milya, 2004. Diktat Ilmu Alamiah Dasar, Padang


[1]. Drs. H. Bakri Dusar. Tauhid dan ilmu kalam. Hal: 3

[2] . Muhammad Abduh. Risalah Tauhid. Bulan bintang. Jakarta.1965. Hal:25

[3]  Mustafa Abd. Razak. Tahmid li tarikh al-fasafah al-islamiyah, lajnah wa at-thalif wa-attarjamah wa nasyir, 1959. hal: 265

[4] . Ahmad Hanafi. Teologi islam (ilmu kalam). Hal: 4-5

[5] Shalih bin fauzan bin abdullah bin fauzan. At tauhid lish-shafil awwal al-’aliy.yayasan Al sofwa

[6] . Drs. H. M. Yusran Asmuni. Ilmu Tauhid.hal:3

[7] . prof. dr. Yahya Jaya , M.A. Teologi agama islam klasik. Hal:18

[8] . M. Tharir A. Muin. Ikthtisar ilmu tauhid.kita. yogyakarta.hal:1

[9] . Tengku M. Hasbi Ash shidieqy. Sejarah Dan Pengantar ILMU TAUHD/KALAM. Hal:1

[10]Muhammad Ahmad, Tauhid Ilmu Kalam,1998, (Bandung : CV Pustaka Setia) hal : 134

4 thoughts on “ILMU KALAM, ILMU AKIDAH, & ILMU TAUHID

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s